Jumat, 04 Juni 2010

Penilaian Kerusakan Penyakit Tanaman

LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR – DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN
“Penilaian Kerusakan Penyakit Tanaman”






OLEH :
DESPA EKA SUSANTI
05081004029



JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDERALAYA
2010

BAB I
PENDAHULUAN

a. Latar Belakang

Tanaman cabai ( Capsicum annum L. ) merupakan tanaman semak yang tergolong sebagai tanaman tahunan, tetapi umumnya diusahakan sebagai tanaman setahun baik di daerah – daerah beriklim sedang maupun di daerah tropis. Tanaman cabai berasal dari daerah tropis Amerika Selatan. Tanaman ini merupakan tanaman rempah – rempah yang mempunyai nilai ekspor tinggi. Cabai dikenal di seluruh dunia dan digunakan secara meluas dibanyak negara karena peranannya yang penting didalam masakan. Disamping itu tanaman cabai (Capsicum spp) merupakan tanaman sayuran utama yang ditanam secara meluas di negara – negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, dan negara Asia lainnya seperti India, Kore dan Cina ( Vos, 1994 ).
Seperti halnya tanaman budidaya yang lain pengusaha tanaman cabai yang intensif dan meliputi areal yang luas ini telah menimbulkan perkembangan beberapa jenis hama, sehingga mengakibatkan masalah yang cukup meresahkan. Hama dan penyakit merupakan pembatas produksi utama. Hama - hama yang penting pada tanaman cabai antara lain Apis (Aphis gossypii Sulz) ( Homoptera, Aphididae ), Thrips ( Thrips parvispinus Karny ) (Thysanoptera, Thrips) dan lalat buah cabai ( Dacus dorsalis Hend ) (Diptera, Tephritidae) ( Setiadi, 1990, Mudjiono,dkk. 1991).
Penyakit yang penting pada tanaman cabai antara lain adalah penyakit Antraknosa (Colletotrichum capsici ) dan penyakit bercak daun ( Cercospora capsici ) (Semangun, 1989, Choli, dan Latif Abadi, 1991). Menurut Vos, 1994 besarnya kehilangan hasil oleh serangan satu atau lebih hama dan penyakit berkisar anatara 12 – 65 %.
Gulma selalu ada disekitar tanaman budidaya, akan memberikan pengaruh pada tanaman yang diusahakan, hal ini terjadi karena adanya saling interaksi antara tanaman dengan gulma. Kehadiran gulma pada tanaman cabai akan menyebabkan rendahnya produksi, baik secara kwalitatif maupun kwantitatif. Tingginya penurunan hasil panen yang disebabkan gulma sangat bervariasi tergantung dari jenis tanaman utama. Gulma dalam jumlah yang cukup banyak dan selama masa pertumbuhan akan menyebabkan kehilangan hasil secara total. Pengendalian gulma merupakan suatu hal yang sangat penting (Moenandir, 1988).
Tingginya kehilangan hasil jika gulma tidak dikendalikan tergantung kepada : kerapatan gulma dengan tanaman utama, spesies gulma, jenis tanaman, teknik bercocok tanam, tingkat kesuburan tanah, ketersediaan air dalam tanah. Persaingan yang timbul atas kehadiran gulma pada areal pertanaman mencakup udara dan penguasaan ruang, hal ini terjadi karena gulma dan tanaman utama tumbuh bersama dalam suatu areal.
Penanaman cabai di lahan yang belum dimanfaatkan ( lahan subur ) merupakan usaha untuk memanfaatkan lahan dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Masalah – masalah dengan kesehatan tanaman menyebabkan penggunaan pestisida sangat intensif pada daerah produksi cabai. Penggunaan pestisida kadang- kadang sangat tinggi. Suatu analisa ekonomi usaha tani di Brebes menunjukkan bahwa 51% dari biaya sarana produksi (termasuk tenaga kerja) hanya digunakan untuk membelanjakan pestisida saja (Basuki, 1988). Pemberantasan hama dan penyakit tanaman dengan pestisida dapat menyebabkan masalah ekologi yang rawan. Keadaan ini mengakibatkan : Pencemaran tanah dan air, adanya resiko tinggi keracunan residu pestisida yang tinggi pada produk – produk yang dipasarkan dan biaya produksi tinggi (Vos, 1994).
Asandhi ( 1994 dalam Vos, 1994 ) menjelaskan bahwa di dalam usaha mengembangkan usaha tani yang berwawasan lingkungan, pemerintah Indonesia telah memperkenalkan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang pada dasarnya adalah : Pertama menanam tanaman sehat sesuai dengan agroekosistemnya sejak dari pemilihan benih/ bibit yang sehat, secara persemaian, cara tanam sampai pemupukannya, sehingga dengan demikian populasi hama tetap di bawah ambang kendali. Konsep kedua adalah pemanfaatan musuh alami. Ketiga adalah konsep ambang kendali dimana baru akan digunakan apabila populasi hama telah mencapai atau melampaui ambang kendali.

b. Tujuan
Untuk memberikan informasi mengenai penentuan tingkat kerusakan mutlak dan tingkat kerusakan bervariasi dari suatu tanaman yang terserang patogen dan cara pengendalian penyakit pada tanaman.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


a. Sistematika Tanaman

Kingdom       : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom :Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi  :Spermatophyta(Menghasilkan biji)
Divisi             :Magnoliophyta(Tumbuhan berbunga)
Kelas             :Magnoliopsida(berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas     :Asteridae
Ordo             :Solanales
Famili           :Solanaceae (suku terung-terungan)
Genus           :Capsicum
Spesies         : Capsicum annum L.

b. Botani Tanaman
Tanaman cabai termasuk tanaman semusim terdiri tegak dan berbentuk perdu, tinggi berkisar antara 0,65 – 0,75 m. Tanaman dewasa bertauk lebar tajuk berukuran 0,65 – 1 m. Tanaman ini berumah satu dan dapat melakukan penyerbukan sendiri.
Perakaran tanaman cabai dangkal dengan kedalaman berkisar 45 cm. Penyebaran kearah samping berkisar 30 – 40 cm. Batang utama berwarna coklat hijau berkayu panjang antara 20 – 28 cm dengan diameter 1,5 – 2,5 cm. Percabangan berwarna hijau dengan panjang antara 5-7 cm, diameter percabangan lebih kecil dari batang utama berkisar 0,5 -1 cm. Dan terdiri atas tangkai dan tulang daun dan helai daun. Panjang tangkai daun antara 2 – 5 cm berwarna hijau, tangkai daun berkembang sekaligus ibu tulang daun, panjang daun 10 – 15 cm dengan lebar 4 -5 cm.
Bunga cabai berkelamin dua (hemaprodit) dalam satu bunga terdiri satu alat kelamin jantan dan betina. Bunga tersusun di atas tangkai bunga terdiri atas dasar bunga,kelopak bunga, mahkota bunga. Letak bunga menggantung, panjang 1 – 1,5 cm, panjang tangkai bunga 1 -2 cm. Bakal buah berwarna kelabu dan pangkal berwarna putih. Putik berwarna putih bening, panjang 0,5 cm kepala putik berwarna hijau
Buah cabai merupakan buah sejati tunggal terdiri dari satu bunga dan satu bakal buah. Permukaan buah rata dan licin, yang telah tua berwarna merah mengkilat, panjang buah berkisar antara 9 – 15 cm dengan diameter 1 – 1,75 cm dengan berat bervariasi (Nawaningsih, dkk, 1998).

c. Syarat Tumbuh
Budidaya cabai memang tergolong beresiko tinggi. Namun resiko ini bisa diminimalisir dengan memperhatikan beberapa hal yang terkait dengan budidayanya. Salah satunya adalah dengan memperhatikan syarat tumbuh tanaman cabai tersebut.
Syarat tumbuh cabai ditentukan oleh dua hal yaitu iklim dan tanah.
Iklim
Curah hujan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan produksi cabai. Curah hujan yang ideal untuk bertanam cabai adalah 1500 – 2500 mm/ tahun dengan distribusi merata. Curah hujan yang rendah menyebabkan tanaman kekeringan dan membutuhkan air untuk penyiraman. Sebaliknya, curah hujan yang tinggi bisa merusak tanaman cabai serta membuat lahan penanaman becek dan kelembabannya tinggi.
Suhu udara yang cocok pada saat penanaman tanaman cabai adalah berkisar antara 16o C – 32o C. Kelembaban yang cocok bagi tanaman cabai berkisar antara 70 – 80 %, terutama saat pembentukan bunga dan buah. Pada saan pembungaan sampai dengan pemasakan buah cahaya matahari harus cukup ( 10-12 jam ).
Kelembaban yang melebihi 80% memacu pertumbuhan cendawan yang berpotensi menyerang dan merusak tanaman. Sebaliknya, iklim yang kurang dari 70% membuat cabai kering dan mengganggu pertumbuhan generatifnya, terutama saat pembentukan bunga, penyerbukan, dan pembentukan buah.

Tanah
Tanaman cabai sebaiknya ditanam pada tanah remah/ gembur dan banyak mengandung unsur hara. Cabai tumbuh optimal di tanah regosol dan andosol. Penambahan bahan organik, seperti pupuk kandang dan kompos, saat pengolahan tanah atau sebelum penanaman dapat diaplikasikan untuk memperbaiki struktur tanah serta mengatasi tanah yang kurang subur atau miskin unsur hara.
Sebaiknya pilih lahan penanaman yang agak miring untuk menghindari genangan air. Namun, tingkat kemiringan lahan tidak lebih dari 25%. Lahan yang terlalu miring menyebabkan erosi dan hilangnya pupuk, karena tercuci oleh air hujan. Tanah yang terlalu datar harus dibuatkan saluran pembuangan air. Lahan penanaman harus terbuka atau tidak ada naungan.
Kadar keasaman (pH) tanah yang cocok untuk penanaman cabai secara intensif adalah 5,5- 7,0. Tanah dengan pH rendah atau asam harus dinetralkan dulu dengan cara menebarkan kapur pertanian. Sebaliknya, tanah yang terlalu basa atau pH-nya tinggi bisa dinetralkan dengan cara menaburkan belerang ke lahan penanaman.
Saat ini ketinggian lahan tidak lagi menjadi masalah untuk menanam cabai. Secara umum, cabai bisa ditanam pada ketinggian lahan dari 1 – 2.000 m dpl. Ketinggian tempat berpengaruh pada jenis hama dan penyakit yang menyerang cabai. Di dataran tinggi, penyakit yang menyerang biasanya disebabkan oleh cendawan atau jamur. Sedangkan di lahan dataran rendah biasanya penyakit yang menyerang dipicu oleh bakteri.

BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM


a. Tempat dan Waktu

Praktikum dilaksanakan di lahan jurusan Hama Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Indralaya pada hari Senin tanggal 19 April 2010 jam 15. 45 WIB sampai dengan selesai.

b. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah cangkul, serta kamera untuk pengambilan data yang akan dijadikan lampiran. Sedangkan bahan yang digunakan adalah bibit cabai yang akan diteliti.

c. Cara Kerja
1. Mengamati tanaman yang ada dilahan untuk mengetahui gejala – gejala kerusakan tanaman cabai.
2. Bloklah tanaman yang sakit tersebut, dan beri penjelasan mengenai cara perhitungan kerusakan mutlak ( persentase kerusakan ) dan kerusakan bervariasi ( intensitas serangan ).


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

a. Hasil (Perhitungan Pertanaman)
1. Perhitungan Kerusakan Bervariasi ( Intensitas Serangan )

Tanaman 1
I = ε ( n x v ) x 100%
Z x N
= ( 3 x 0 ) + ( 0x 1 ) + ( 1 x 2 ) + ( 0 x 3 ) + ( 2 x 4 ) x 100%
4 x 6
= 0 + 0 + 2 + 0 + 8 x 100%
24
= 10 x 100%
24
= 41,67 %

Tanaman 2
I = ε ( n x v ) x 100%
Z x N
= ( 5 x 0 ) + ( 1x 1 ) + ( 0 x 2 ) + ( 0 x 3 ) + ( 0 x 4 ) x 100%
4 x 6
= 0 + 1 + 0 + 0 + 0 x 100%
24
= 1 x 100%
24
= 4, 16 %

Tanaman 3
I = ε ( n x v ) x 100%
Z x N
= ( 18 x 0 ) + ( 0x 1 ) + ( 0 x 2 ) + ( 0 x 3 ) + ( 4 x 4 ) x 100%
4 x 22
= 0 + 0 + 0 + 0 + 16 x 100%
88
= 16 x 100%
88
= 18,18 %

Tanaman 4
I = ε ( n x v ) x 100%
Z x N
= ( 4 x 0 ) + ( 0x 1 ) + ( 0 x 2 ) + ( 0 x 3 ) + ( 0 x 4 ) x 100%
4 x 4
= 0 + 0 + 0 + 0 + 0 x 100%
16
= 0 x 100%
16
= 0 %

Tanaman 5
I = ε ( n x v ) x 100%
Z x N
= ( 4 x 0 ) + ( 0x 1 ) + ( 0 x 2 ) + ( 0 x 3 ) + ( 1 x 4 ) x 100%
4 x 5
= 0 + 0 + 0 + 0 + 4 x 100%
20
= 4 x 100%
20
= 20 %

 Tanaman 6
I = ε ( n x v ) x 100%
Z x N
= ( 10 x 0 ) + ( 0x 1 ) + ( 0 x 2 ) + ( 0 x 3 ) + ( 0 x 4 ) x 100%
4 x 10
= 0 + 0 + 0 + 0 + 0 x 100%
40
= 0 x 100%
40
= 0 %

Tanaman 7
I = ε ( n x v ) x 100%
Z x N
= ( 3 x 0 ) + ( 0x 1 ) + ( 2 x 2 ) + ( 1 x 3 ) + ( 3 x 4 ) x 100%
4 x 9
= 0 + 0 + 4 + 3 + 12 x 100%
36
= 19 x 100%
36
= 52,78 %

 Tanaman 8
I = ε ( n x v ) x 100%
Z x N
= ( 4 x 0 ) + ( 0x 1 ) + ( 0 x 2 ) + ( 0 x 3 ) + ( 0 x 4 ) x 100%
4 x 4
= 0 + 0 + 0 + 0 + 0 x 100%
16
= 0 x 100%
16
= 0 %

Tanaman 9
I = ε ( n x v ) x 100%
Z x N
= ( 7 x 0 ) + ( 0x 1 ) + ( 0 x 2 ) + ( 0 x 3 ) + ( 2 x 4 ) x 100%
4 x 9
= 0 + 0 + 0 + 0 + 8 x 100%
36
= 8 x 100%
36
= 22,22 %

Tanaman 10
I = ε ( n x v ) x 100%
Z x N
= ( 3 x 0 ) + ( 0x 1 ) + ( 0 x 2 ) + ( 0 x 3 ) + ( 3 x 4 ) x 100%
4 x 6
= 0 + 0 + 0 + 0 + 12 x 100%
24
= 12 x 100%
24
= 50 %


2. Perhitungan Kerusakan Mutlak( Persentase Kerusakan )
 Tanaman 1

P = n x 100%
N
= 3 x 100%
6
= 50%

Tanaman 2
P = n x 100%
N
= 1 x 100%
6
= 16,67%

Tanaman 3
P = n x 100%
N
= 4 x 100%
22
= 18,18%

Tanaman 4
P = n x 100%
N
= 0 x 100%
4
= 0%

Tanaman 5
P = n x 100%
N
= 1 x 100%
5
= 20%

Tanaman 6
P = n x 100%
N
= 0 x 100%
10
= 0%

 Tanaman 7
P = n x 100%
N
= 6 x 100%
9
= 66,67%

 Tanaman 8
P = n x 100%
N
= 0 x 100%
4
= 0 %

Tanaman 9
P = n x 100%
N
= 2 x 100%
9
= 22,22 %

Tanaman 10
P = n x 100%
N
= 3 x 100%
6
= 50%

b. Pembahasan
Hambatan paling besar menanam cabai biasanya datang dari keberadaan hama dan penyakit yang seringkali membuat tanaman rusak pada bagian tertentu yang bisa menyebabkan gagal produksi. Cukup banyak jenis penyakit yang menyerang tanaman cabai ini dari fase benih sampai panen. Namun hanya beberapa yang utama dan paling merusak. Berikut adalah pembahasan mengenai penyakit utama pada tanaman cabai yang diamati. Sebagai budidaya, tentu saja pengembangan tanaman cabai tidak bisa terlepas dari pengendalian penyakit.
Meskipun komoditas ini sangat menjanjikan, namun tidak sedikit dari para petani yang mengeluh akibat kehadiran pengganggu keberhasilan budidayanya. Kerugian yang diakibatkan penyakit telah membuat tidak sedikit para petani yang bangkrut dan tidak mau membudidayakan tanaman cabai lagi.
Dari hasil pengamatan yang dilakukan, tingkat serangan penyakit tanaman terhadap tanaman yang diamati adalah :
Pada tanaman 1, kerusakan bervariasi adalah 41,67% dan kerusakan mutlak sebesar 50%, hal ini menunjukkan bahwa tanaman 1 telah mengalami kerusakan yang sangat membahayakan tanaman tersebut.
Pada tanaman 2, kerusakan bervariasi adalah 4,16% dan kerusakan mutlak sebesar 16,67, kerusakan bervariasi dan juga mutlak berada dibawah 50%, hal ini menunjukkan serangan penyakit tanaman belum begitu berbahaya.
Pada tanaman 3, kerusakan bervariasi adalah 18,18% dan kerusakan mutlak sebesar 18,18%, kerusakan bervariasi dan juga mutlak berada dibawah 50%, hal ini menunjukkan serangan penyakit tanaman belum begitu berbahaya.
Pada tanaman 4, kerusakan bervariasi adalah 0% dan kerusakan mutlak sebesar 0%, hal ini menunjukkan bahwa tanaman cabai tersebut aman dari serangan penyakit tanaman.
Pada tanaman 5, kerusakan bervariasi adalah 20% dan kerusakan mutlak sebesar 20%, kerusakan bervariasi dan juga mutlak berada dibawah 50%, hal ini menunjukkan serangan penyakit tanaman belum begitu berbahaya.
Pada tanaman 6, kerusakan bervariasi adalah 0% dan kerusakan mutlak sebesar 0%, hal ini menunjukkan bahwa tanaman cabai tersebut aman dari serangan penyakit tanaman.
Pada tanaman 7, kerusakan bervariasi adalah 52,78% dan kerusakan mutlak sebesar 66,67%, hal ini menunjukkan bahwa tanaman telah mengalami kerusakan yang telah melewati ambang batas serangan hama sehingga tanaman tersebut butuh pengendalian yang lebih baik.
Pada tanaman 8, kerusakan bervariasi adalah 0% dan kerusakan mutlak sebesar 0%, hal ini menunjukkan bahwa tanaman cabai tersebut aman dari serangan penyakit tanaman.
Pada tanaman 9, kerusakan bervariasi adalah 22% dan kerusakan mutlak sebesar 22%, kerusakan bervariasi dan juga mutlak berada dibawah 50%, hal ini menunjukkan serangan penyakit tanaman belum begitu berbahaya.
Pada tanaman 10, kerusakan bervariasi adalah 50% dan kerusakan mutlak sebesar 50%, hal ini menunjukkan bahwa tanaman telah mengalami kerusakan yang sangat membahayakan tanaman tersebut atau dapat dikatakan hampir mencapai amabang batas serangan penyakit.
Kerusakan – kerusakan diatas terjadi karena serangan dari penyakit – penyakit tanaman. Penyakit – penyakit tanaman tersebut adalah :

a. Penyakit Antraknosa ( Colletotrichum capsici ) Sydow.
Butler dan Bisby ( Fungi Imperfecti, Melanconiales ). Penyakit yang sering disebut pengakit kering buah ini, disebabkan oleh jenis jamur yang disebut Colletotricum piperatum atau C. Gloesporioides. Antrak ini sebetulnya tidak hanya menyerang buah cabai saja, tetapi juga menyerang bagian tanaman lain. Bagian yang diserang biasanya menunjukkan bercak mirip ” patek ” sehingga petani mempopulerkannya sebagai penyakit patek.
Tanda – tanda serangan penyakit Antranosa pada tanaman cabai :
 Jika menyerang buah, baik buah muda maupun buah tua atau masak akan menimbulkan bercak – bercak pada buah, dan bercak ini kian lama akan kian melebar. Pada akhirnya seluruh buah akan dipenuhi bercak dan lama – lama buah akan mengerut, mengeriting, warna buah berubah menjadi kehitaman dan membusuk. Seterusnya buah akan rontok sendiri dan keadaannya sangat memprihatinkan.
 Jika bercak pada buah itu diperhatikan, ternyata dibagian tengah bercak itu terlihat semacam jamur berwarna jingga atau kemerahan.
 Jika menyerang bagian daun tanaman, biasanya dimulai dari bagian ujung atau pucuk tanaman. Sebagaimana pada buah, serangan awal hanya timbul bercak saja, lama – lama akan melebar ke bawah dan akhirnya meliputi seluruh bagian tanaman yang lain. Jika sudah sampai tahap ini, mula – mula bagian tanaman yang diserang lebih awal akan mati dulu, kemudian disusul oleh bagian yang lainnya. Akhirnya seluruh tanaman akan mati dengan sendirinya.
 Jika kita perhatikan bercak pada bagian yang diserang antraknosa, akan terlihat bintik – bintik putih. Bintik – bintik inilah merupakan jamur C. capsici tersebut. Serangan penyakit Antraknosa bisa terjadi kapan saja. Namun menurut pengamatan di daerah Jawa Tengah serangan menghebat terjadi ketika curah hujan mulai meninggi (sekitar Januari). Sedangkan pada saat penyakit antraknosa tidak ditemukan (sekitar Maret-April). Berdasarkan pengalaman ini, maka dalam rangka menghadapi serangan antraknosa, sebaiknya penjagaan dilakukan ketika iklim mulai memasuki musim penghujan, dan kalau bisa waktu tanam juga diperhitungkan supaya tidak dilakukan pada saat musim hujan tetapi menjelang akhir musim hujan atau menjelang musim kemarau.

b. Layu Bakteri
Bakteri penyebab layu merupakan penyakit kedua yang sangat meresahkan petani setelah antraknosa. Penyebab layu bakteri ini adalah Pseudomonas solasearum yang serangannya ditandai dengan gejala layu pada tanaman cabai yang mengalami kesembuhan pada waktu sore hari, tetapi lama kelamaan kelayuannnya terjadi secara keseluruhan dan menetap.bakteri ini biasanya ditularkan melalui tanah, benih, bibit, sisa – siasa tanaman, pengairan, nematoda, atau alat – alat pertanian. Selain itu bakteri ini mampu bertahan selama bertahun – tahun di dalam tanah dalam keadaan tidak aktif. Bakteri layu cepat meluas terutama di tanah dataran rendah, gejala kelayuan yang mendadak seringkali tidak diantisipasi. Tanaman yang sehat tiba – tiba saja layu yang dalam waktu tidak sampai 3 hari besoknya langsung mati. Itulah gambaran serangan penyakit layu yang sangat menakutkan. Untuk memastikan penyebab layu tersebut kita bisa mengambil tanaman yang terserang, kemudian pangkal batangnya dibelah untuk direndam pada gelas yang di isi air bening. Apabila bakteri maka akan ditandai dengan keluarnya cairan berwarna cokelat susu berlendir semacam asap yang keluar pembuluh batangnya di dalam air.

c. Penyakit Bercak Daun Cabai ( Cercospora capsici ) (Fungi Imperfecti : Roniliales).
Penyakit bercak daun adalah penyakit yang banyak dijumpai pada cabai merah. Penyakit disebabkan oleh jamur Cercospora capsici. Jamur membentuk konidium berbentuk pada janjang bersekat 3 – 12 dengan ukuran 6 – 200 x 3 – 5m, konidiofor pendek bersekat 1 – 3.
Gejala pada daun terdapat bercak – bercak bulat kecil, kebasah – basahan. Bercak dapat meluas hingga mempunyai garis tengah 0,5 cm atau lebih, pusatnya berwarna pucat sampai putih dengan tepi yang lebih tua warnanya. Bercak – bercak yang tua dapat berlubang. Pada paprika tapak bercak mempunyai permukaan jalur – jalur sepusat, yang nampak jelas jika dilihat pada permukaan atas daun.
Apabila pada daun terdapat banyak bercak, daun cepat menguning dan gugur, atau langsung gugur tanpa menguning lebih dahulu. Bercak sering terdapat pada batang, tangkai daun. Bisa juga bercak dijumpai pada buah tetapi sangat jarang timbul.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

a. Kesimpulan

Pada praktikum yang dilakukan, maka dapat kita dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :
• Pada tanaman cabai, hambatan terbesar yang dapat menurunkan hasil produksi tanaman adalah dengan adanya hama dan penyakit tanaman yang menyerang tanaman tersebut.
• Pengendalian hama dan penyakit tanaman cabai sangat diperlukan agar tidak terjadi puso pada tanaman cabai.
• Pengendalian penyakit tanaman dapat dilakukan dengan cara kultur teknis, pemilihan bibit/ benih yang unggul serta dapat juga dilakukan dengan cara kimia yaitu dengan menggunakan zat – zat kimia.
• Suhu udara yang cocok pada saat penanaman tanaman cabai adalah berkisar antara 16o C – 32o C dan kelembaban yang cocok bagi tanaman cabai berkisar antara 70 – 80 %, terutama saat pembentukan bunga dan buah.
• Kadar keasaman (pH) tanah yang cocok untuk penanaman cabai secara intensif adalah 5,5- 7,0.

b. Saran
Pada pengendalian penyakit tanaman pada cabai, sebaiknya penanaman cabai dilakukan di akhir musim hujan dan pada awal musim kemarau ( Maret – April ) hal ini dimaksudkan agar tanaman cabai dapat terhindar dari serangan penyakit misalnya antraknosa. Selain penanaman yang dilakukan pada awal musim kemarau, sebaiknya tanaman cabai ditanam dilahan yang agak miring agar tidak terjadi genangan air.



DAFTAR PUSTAKA

Biro Pusat Statistik. 1994. Survei Pertanian Produksi Tanaman Sayuran dan Buah – Buahan di Indonesia. Jakarta : BPS

Djarwangningsih, T. 1986. Jenis – Jenis Capsicum L. (Solanaceae) di Indonesia. Berita Biologi 3 (5) : 225-228

http:// id.wikipedia.org/wiki/Cabai

http://iptek.net.id/ind/teknologi_pangan/index.php?

http://plantamor.com/ sistematika_cabai










Tugas Dasar - Dasar Komunikasi

TUGAS DASAR – DASAR KOMUNIKASI
ANALISIS FENOMENA SOSIAL DISEKITAR




Despa Eka Susanti
05081004029




Program Studi Agribisnis
Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian
Fakultas Pertanian
Universitas Sriwijaya

Indralaya
2010



Korban PHK yang Kini Omzetnya Rp8 Miliar per Tahun

Jum'at, 26 Maret 2010 - 08:53 wib

Pemutusan hubungan kerja (PHK) tak selamanya pahit. Lihat saja Siswati. PHK justru menuntunnya menjadi pengusaha sukses di bidang alat permainan edukatif anak usia dini.
Tahun 2005 menjadi tahun tak terlupakan bagi Siswati. Pada tahun tersebut dia bersama 12 rekannya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari PT Mentari Toy, tempatnya bekerja. Perusahaan mainan di daerah Jombang, Jawa Timur itu terpaksa melepas Siswati dan kawan-kawan lantaran gulung tikar. Siswati pun nyaris putus asa. Apalagi sewaktu terkena PHK, usianya bersama 12 rekan sudah tidak muda lagi,rata-rata 40 tahun.
”Di usia 40 tahun,mana ada perusahaan yang mau menerima kami bekerja,” Siswati bercerita.
Di tengah keputusasaan,secercah harap untuk dapat kembali meraih masa depan yang lebih baik terkuak. Ibu empat anak tersebut mendapat tawaran dari seorang pejabat di Jombang bekerja sama membuat mainan edukatif. Bersama 12 rekan-rekannya yang terkena PHK, Siswati pun menjalin kerja sama tersebut. Terlebih pejabat asal Jombang tersebut menawarkan beberapa kemudahan. Sayang,entah mungkin karena belum rezeki,di tengah jalan kerja sama itu terhenti. Siswati kembali menemui persoalan pelik. Buntut kerja sama yang terputus di tengah jalan, dia dan rekan-rekannya harus menanggung sejumlah utang.
”Kesabaran kami benar-benar diuji saat itu,”katanya. Di tengah cobaan tersebut, pertolongan ternyata tetap saja datang. Rekan atasannya sewaktu di PT Mentari Toy menawarinya mendirikan perusahaan permainan edukatif agar utang yang ditanggungnya dapat terbayar. Dengan modal pinjaman, Siswati dan dua temannya mengawali upaya mendirikan perusahaan dengan menjadi distributor mainan dari kayu, plastik, dan besi.

“Saat itu kami belum memproduksi, tetapi memesan barang dari Jateng dan Jatim,”katanya. Usaha distributor mainan ditekuninya hingga satu setengah tahun. Selama menjalankan usahanya sebagai distributor, pasar merespons dengan baik.
Barang-barang yang diambil dari wilayah Jatim dan Jateng tersebut selalu habis terjual. Merasa ilmu dalam bisnis mainan telah lengkap diperoleh, Siswati bersama sejumlah temannya yang terkena PHK, pada 2007 mendirikan CV Putra Putri dengan modal Rp40 juta. Beberapa kawan mantan pekerja PT Mentari Toy juga diajak ikut serta. Tak butuh waktu lama bagi CV Putra Putri yang memproduksi permainan edukatif untuk berkembang pesat. Pesanan satu demi satu berdatangan, hingga jumlahnya ribuan.Omzet perusahaannya meningkat dari tahun ke tahun. Jika pada awal-awal pendirian omzetnya masih berada di kisaran Rp1-2 miliar per tahun, pada 2009 omzet perusahaannya telah mencapai Rp8 miliar per tahun.
Penambahan omzet yang demikian besar itu menurut Siswati karena dalam tempo waktu tiga bulan terakhir pada 2009, perusahaannya mendapat order dari 18 kabupaten di Indonesia. ”Semua berjalan demikian cepat. Saya sendiri tak mengira kalau perusahaan yang bisa dikatakan industri rumahan bisa seperti sekarang,”kata Siswati.
Kini produksi mainan edukatif CV Putra Putri dengan merek dagang Papoe (singkatan dari putra dan poetri) telah merambah 33 provinsi di Indonesia. Dari Sabang di Aceh sampai Merauke di Jayapura.
Pabriknya yang berdiri di atas lahan seluas 1.500 meter persegi di Desa Kembangbunder, Jombang, setiap bulan telah mampu memproduksi hingga 513 jenis mainan edukatif untuk anak di usia emas (golden age),0-4 tahun. CV Putra Putri juga menampung pekerja yang sebagian besar dari warga sekitar, ditambah beberapa pekerja mantan karyawan PT Mentari Toy. Atas prestasi itu, banyak penghargaan yang diterima Siswati. Perusahaannya kerap menjadi contoh pembuatan alat edukatif yang ramah lingkungan, memerhatikan aspek kesehatan, dan tidak membahayakan untuk anak balita.
”Pelatihan-pelatihan yang saya dapatkan membantu saya membuat mainan yang memperhatikan standar keselamatan dan keamanan. Semua bahan yang kami gunakan aman dan tidak mengandung racun,”ungkapnya. Dia juga dipercaya menerima pinjaman bank sebesar Rp125 juta dari BNI.Jumlahnya terus meningkat hingga kini menjadi Rp150 juta. Siswati memilih BNI karena mutu pelayanan dan suku bunganya yang kompetitif. Namun,tak selamanya roda bisnis CV Putra Putri berjalan mulus. Nah, situasi yang paling sulit dihadapi Siswati adalah penjiplakan yang dilakukan perusahaan lain terhadap Papoe, brand produk CV Putra Putri. Penjiplakan hasil karya ini,menurut Siswati, sudah cukup mencemaskan.
”Banyak komplain ke kami bahwa produk bikinan Jombang kurang baik. Padahal, setelah kami selidiki,ternyata produk itu dari daerah lain,”katanya.
Ironisnya, tak banyak pilihan bagi Siswati untuk keluar dari masalah ini. Untuk mendaftarkan hasil karyanya, setiap item dikenai biaya registrasi Rp600 ribu. Bisa dibayangkan, berapa dana yang harus dikeluarkan CV Putra Putri untuk mematenkan ratusan jenis mainannya. Ini belum termasuk empat jenis mainan baru yang setiap bulan diciptakan CV Putra Putri.”Kesadaran penghargaan terhadap karya orang lain masih minim,”katanya.
Tantangan lain datang dari kemunculan perusahaan-perusahaan sejenis. Banyak perusahaan baru menawarkan harga jual lebih rendah sehingga merusak harga pasar. Serbuan produk murah dari China meski tidak terlalu berpengaruh signifikan juga menjadi ujian lainnya. Meski tantangan dan cobaan sepertinya tak pernah berhenti mendera,istri seorang dosen di sebuah universitas di Kota Malang tersebut tetap tegar. Salah satu pendorong semangatnya adalah obsesi mulia untuk memberi pekerjaan bagi banyak orang.“Kami berobsesi bisa menampung 1.000 karyawan dari tempat saya bekerja dulu (Mentari Toy),”katanya.
Siswati juga ingin wilayah pemasaran usahanya tidak hanya di dalam negeri.Ke depan dia ingin produk Papoe bisa diekspor ke luar negeri. Dia mengatakan, ada beberapa pihak yang sudah menjajaki untuk mengekspor produknya.” Mudah-mudahan dalam waktu dekat, produk saya juga bisa dijual ke luar negeri,”harapnya.
Cita-cita mulia lainnya adalah keinginannya mendirikan anak usaha dari bidang yang digelutinya saat ini. Siswati ingin membuat perusahaan ekspedisi. Perusahaan ekspedisi akan turut membantu memperlancar distribusi barang. Usaha ekspedisi diakuinya juga punya prospek cerah. ”Dengan adanya usaha tersebut, saya harap dapat kembali mengentaskan pengangguran di wilayah sekitar,”katanya.
Tak berhenti di sini, cita-cita mulia Siswati masih berderet antara lain mendirikan sekolah untuk anak usia dini dengan standar tinggi. Dia ingin anak-anak di Jombang, khususnya di sekitar perusahaannya, berdiri menjadi anak cerdas, mampu meraih cita-cita setinggi langit. Begitulah Siswati,perempuan pengusaha asal Jombang, yang senantiasa tak bisa lepas dari tanggung jawabnya sebagai seorang ibu, turut membesarkan dan mendidik anak-anak Indonesia.


Analisis fenomena sosial disekitar.

Pada fenomena sosial diatas, fenomena tersebut dapat kita analisis berdasarkan unsur – unsur komunikasi. Unsur – unsur komunikasi tersebut adalah :
1. Komunikator
2. Komunikan
3. Pesan
4. Saluran Komunikasi dan Media Komunikasi
5. Efek Komunikasi
6. Umpan Balik
7. Gangguan

1. Komunikator
Sebelum kita membahas lebih jauh tentang komunikator, akan lebih baik kita mengetahui definisi komunikator. Komunikator adalah manusia yang berakal budi yang berinisiatif menyampaikan pesan untuk mewujudkan motif komunikasinya.
Dilihat dari jumlahnya, komunikator dapat terdiri dari :
a. Satu orang
b. Banyak orang dalam pengertian lebih dari satu.
c. Massa
Pada fenomena diatas, komunikator terdiri dari satu orang yaitu Siswanti. Siswanti berperan sebagai komunikator karena ia berinisiatif untuk menyampaikan pesan kepada komunikan. Atau dengan kata lain, Siswanti dapat dikatakan sebagai sumber informasi.

2. Komunikan
Definisi komunikan adalah penerima pesan yang disampaikan oleh komunikator.
Sama halnya dengan komunikator, komunikan juga dapat dilihat dari jumlahnya. Apakah itu satu orang, banyak orang ( kelompok kecil, kelompok besar, termasuk dalam wujud organisasi), dan massa.
Pada fenomena diatas, kita dapat menggolongkan komunikannya kedalam kategori antara satu orang dengan massa ( Siswanti berperan sebagai komunikator massa yang menyampaikan pesan melalui media massa dan khalayak ramai sebagai komunikan). Kita dapat mengatakan demikian karena Siswanti sebagai komunikator memberikan informasi melalui media massa (internet) yang dapat dibaca oleh khalayak ramai.

3. Pesan

Definisi pesan adalah segala sesuatu verbal maupun nonverbal, yang disampaikan komunikator kepada komunikan untuk mewujudkan motif komunikasinya.
Pada fenomena diatas, penyampaian informasi adalah bahasa tulisan sehingga pesan tersebut dikelompokkan dalam pesan verbal.
Adapun pesan yang Siswanti sampaikan adalah pesan yang bertujuan untuk memberitahukan kepada khalayak ramai tentang usaha yang digelutinya saat ini. Asal mula pendirian usaha ini dan impian Siswanti agar bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat disekitarnya. Sehingga khalayak yang membacanya mengetahui apa yang disampaikan oleh Siswanti. Dan makna pesan yang disampaikan oleh Siswanti akan sama dengan apa yang diterima oleh komunikan.

4. Saluran Komunikasi dan Media Komunikasi
Saluran komunikasi adalah jalan yang dilalui pesan komunikator untuk sampai ke komunikannya. Terdapat dua jalan agar pesan komunikator sampai ke komunikannya, yaitu tanpa media (nonmediated communication yang berlangsung face- to – face, tatap muka) atau dengan media. Media yang dimaksud adalah media komunikasi. Media komunikasi diartikan sebagai lat perantara yang sengaja dipilih komunikator untuk menghantarkan pesannya agar sampai ke komunikan.
Pada fenomena yang kita analisis, saluran yang digunakan oleh komunikan adalah dengan menggunakan media massa. Dikatakan menggunakan media massa dilihat dari waktu terbitnya dapat dibedakan atas media massa periodik dan media massa nonperiodik. Periodik berarti terbit teratur pada waktu- waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Media massa nonperiodik dimaksudkan pada media massa yang bersifat eventual, tergantung pada even tertentu.
Pada analisis kita, media massa yang digunakan adalah media massa nonperiodik. Karena media massa tersebut bersifat eventual.
Media yang digunakan oleh komunikator adalah media yang bersifat multimedia. Hal ini dikarenakan komunikator menggunakan internet dalam penyebaran informasi yang disampaikan kepada khalayak ramai.

5. Efek Komunikasi
Dilihat dari artikel diatas, efek komunikasi yang terjadi adalah efek kognitif. Hal ini dikarenakan apabila seseorang membaca artikel diatas, maka seseorang tersebut akan mengetahui isi dari pesan yang disampaikan oleh komunikan. Komunikan memberikan penjelasan yang terperinci mengenai asal mula berkembangnya usaha tersebut sampai omset yang ia peroleh per tahun. Dengan demikian, makna pesan yang disampaikan oleh komunikator akan sama dengan apa yang dibaca oleh komunikan.

6. Umpan Balik
Umpan balik yang diberikan oleh komunikan dari apa yang disampaikan oleh komunikator tidak dapat kita tentukan karena komunikan hanya membaca apa yang disampaikan oleh komunikan. Tidak ada interaksi secara langsung ( face to face ) sehingga pesan yang disampaikan oleh komunikator hanya dapat diterima oleh komunikan tanpa adanya tukar peran antara komunikator dan juga komunikan.

7. Gangguan
Dikarenakan penyampaian pesan yang dilakukan oleh komunikator adalah melalui internet, maka gangguan dalam penyampaian informasi ini adalah keterbatasan komunikan dalam memperoleh informasi. Hal ini dikarenakan tidak semua komunikan dapat menggunakan internet. Selain itu, gangguan lain adalah koneksi internet yang kurang lancar disuatu daerah dan jangkauan internet yang terbatas.

Kamis, 03 Juni 2010

TaKe HomE UTS EmaK

PAPER UJIAN TENGAH SEMESTER
EKONOMI MAKRO


Oleh :
Despa Eka Susanti
05081004029



PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDERALAYA
2010


1.Bahaslah pengertian pendapatan nasional, metoda apa saja yang digunakan untuk perhitungan pendapatan nasional. Menurut Anda diantara metoda tersebut, metoda mana yang lebih baik/ unggul untuk digunakan, mengapa?
Jawab :
Pendapatan nasional adalah merupakan jumlah seluruh pendapatan yang diterima oleh masyarakat dalam suatu negara selama satu tahun.
Konsep Pendapatan Nasional
•Produk Domestik Bruto (GDP)

Produk domestik bruto (Gross Domestic Product) merupakan jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) selama satu tahun. Dalam perhitungan GDP ini, termasuk juga hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan/orang asing yang beroperasi di wilayah negara yang bersangkutan. Barang-barang yang dihasilkan termasuk barang modal yang belum diperhitungkan penyusutannya, karenanya jumlah yang didapatkan dari GDP dianggap bersifat bruto/kotor.
•Produk Nasional Bruto (GNP)
Produk Nasional Bruto (Gross National Product) atau PNB meliputi nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara (nasional) selama satu tahun; termasuk hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara yang berada di luar negeri, tetapi tidak termasuk hasil produksi perusahaan asing yang beroperasi di wilayah negara tersebut.
•Produk Nasional Neto (NNP)
Produk Nasional Neto (Net National Product) adalah GNP dikurangi depresiasi atau penyusutan barang modal (sering pula disebut replacement). Replacement penggantian barang modal/penyusutan bagi peralatan produski yang dipakai dalam proses produksi umumnya bersifat taksiran sehingga mungkin saja kurang tepat dan dapat menimbulkan kesalahan meskipun relatif kecil.
•Pendapatan Nasional Neto (NNI)
Pendapatan Nasional Neto (Net National Income) adalah pendapatan yang dihitung menurut jumlah balas jasa yang diterima oleh masyarakat sebagai pemilik faktor produksi. Besarnya NNI dapat diperoleh dari NNP dikurang pajak tidak langsung. Yang dimaksud pajak tidak langsung adalah pajak yang bebannya dapat dialihkan kepada pihak lain seperti pajak penjualan, pajak hadiah, dll.
•Pendapatan Perseorangan (PI)
Pendapatan perseorangan (Personal Income)adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh setiap orang dalam masyarakat, termasuk pendapatan yang diperoleh tanpa melakukan kegiatan apapun. Pendapatan perseorangan juga menghitung pembayaran transfer (transfer payment). Transfer payment adalah penerimaan-penerimaan yang bukan merupakan balas jasa produksi tahun ini, melainkan diambil dari sebagian pendapatan nasional tahun lalu, contoh pembayaran dana pensiunan, tunjangan sosial bagi para pengangguran, bekas pejuang, bunga utang pemerintah, dan sebagainya. Untuk mendapatkan jumlah pendapatan perseorangan, NNI harus dikurangi dengan pajak laba perusahaan (pajak yang dibayar setiap badan usaha kepada pemerintah), laba yang tidak dibagi (sejumlah laba yang tetap ditahan di dalam perusahaan untuk beberapa tujuan tertentu misalnya keperluan perluasan perusahaan), dan iuran pensiun (iuran yang dikumpulkan oleh setiap tenaga kerja dan setiap perusahaan dengan maksud untuk dibayarkan kembali setelah tenaga kerja tersebut tidak lagi bekerja).
•Pendapatan yang siap dibelanjakan (DI)
Pendapatan yang siap dibelanjakan (Disposable Income) adalah pendapatan yang siap untuk dimanfaatkan guna membeli barang dan jasa konsumsi dan selebihnya menjadi tabungan yang disalurkan menjadi investasi. Disposable income ini diperoleh dari personal income (PI) dikurangi dengan pajak langsung. Pajak langsung (direct tax) adalah pajak yang bebannya tidak dapat dialihkan kepada pihak lain, artinya harus langsung ditanggung oleh wajib pajak, contohnya pajak pendapatan.

Pendapatan nasional pada dasarnya merupakan kumpulan pendapatan masyarakat suatu negara. Tinggi rendahnya pendapatan nasional akan mempengaruhi tinggi rendahnya pendapatan per kapita negara yang bersangkutan. Akan tetapi, banyak sedikitnya jumlah penduduk pun akan mempengaruhi jumlah pendapatan per kapita suatu negara.
Metoda yang digunakan untuk Perhitungan Pendapatan Nasional

Ada 3 metoda dalam perhitungan pendapatan nasional :
1.Pendekatan Produksi
2.Pendekatan Penerimaan
3.Pendekatan Pengeluaran

1.Pendekatan Produksi (PDB/ PGNP)
Pendekatan yang berasal dari penggunaan faktor – faktor produksi untuk menghasilkan sesuatu. Pendekatan ini memiliki kelemahan yaitu munculnya doule counting atau perhitungan ganda.
Perhitungan ganda yang dimaksud yaitu nilai produk sebelumnya akan ditambahkan pada produk – produk turunan berikutnya dan digunakan sebagai nilai akhir produk tersebut.
Akibatnya nilai produk akhir menjadi lebih tinggi. Salah satu usaha untuk mengurangi dampak dari double counting yaitu dengan menggunakan pendekatan value added atau nilai tambah. Dalam pendekatan ini nilai produk akan dilihat nilai tambahnya pada produk turunan berikutnya sehingga yang nampak pada nilai barang akhir yaitu jumlah keseluruhan nilai barang akan sama dengan nilai akhir produk turunan terakhir.
Pendekatan produksi bisa dicari dengan :

2. Pendekatan Pengeluaran ( PNB/GNP )

Perhitungan pendapatan dengan melihat pengeluaran yang dilakukan oleh pelaku ekonomi yaitu rumah tangga konsumsi, rumah tangga perusahaan, dan pemerintah.
Pendekatan ini dapat dirumuskan sebagai berikut :


Keterangan : Y : Yield
C : Consumption
I : Investment
G: Goverment Expenditure
X: Expor
M: Import

3. Pendekatan Pendapatan ( PN/NI )
Pendekatan yang mengarah pada penerimaan atas penggunaan faktor – faktor produksi.
Pendekatan ini dapat dirumuskan :

Keterangan : Y : Yield
r : rent
w : wage
i : interest
p : profit
Menurut saya metoda yang lebih baik / unggul untuk digunakan adalah metode pengeluaran. Hal ini disebabkan karena cara tersebut dapat memberikan keterangan – keterangan yang sangat berguna mengenai tingkat kegiatan ekonomi yang dicapai.
Data pendapatan nasional yang dihitung dengan cara pengeluaran akan dapat memberi gambaran tentang :
a.Sampai dimana buruknya masalah ekonomi yang dihadapi atau sampai dimana baiknya tingkat pertumbuhan yang dicapai dan tingkat kemakmuran yang sedang dinikmati.
b.Memberikan informasi dan data yang dibutuhkan dalam analisis makroekonomi.
Data pendapatan nasional dan komponen – komponen data yang dihitung dengan cara pengeluaran dapat digunakan sebagai landasan untuk mengambil langkah – langkah dalam mengatasi masalah ekonomi yang dihadapi.


2.Apa yang Anda ketahui tentang krisis ekonomi, sudah berapa kali Indonesia mengalami krisis yang relatif parah sehingga dirasakan dampaknya oleh masyarakat umum. Jelaskan berdasarkan teori dan fenomena yang terjadi di Indonesia.

Jawab:
Krisis ekonomi adalah suatu kondisi atau keadaan perekonomian dimana tidak baiknya atau dapat dikatakan buruknya suatu kondisi perekonomian suatu negara yang mengakibatkan melemahnya perekonomian negara tersebut. Krisis ekonomi juga disebut krisis finansial.
Indonesia mengalami krisis ekonomi yang relatif parah adalah pada tahun 1998. Keadaannya berlangsung sangat tragis dan tercatat sebagai periode paling suram dalam sejarah perekonomian Indonesia.
Selama periode sembilan bulan pertama 1998, tak pelak lagi merupakan periode paling hiruk pikuk dalam perekonomian. Krisis yang sudah berjalan enam bulan selama tahun 1997,berkembang semakin buruk dalam tempo cepat. Dampak krisis pun mulai dirasakan secara nyata oleh masyarakat, dunia usaha.
Dana Moneter Internasional (IMF) mulai turun tangan sejak Oktober 1997, namun terbukti tidak bisa segera memperbaiki stabilitas ekonomi dan rupiah. Bahkan situasi seperti lepas kendali, bagai layang-layang yang putus talinya. Krisis ekonomi Indonesia bahkan tercatat sebagai yang terparah di Asia Tenggara.
Seperti efek bola salju, krisis yang semula hanya berawal dari krisis nilai tukar baht di Thailand 2 Juli 1997, dalam tahun 1998 dengan cepat berkembang menjadi krisis ekonomi, berlanjut lagi krisis sosial kemudian ke krisis politik.
Akhirnya, dia juga berkembang menjadi krisis total yang melumpuhkan nyaris seluruh sendi-sendi kehidupan bangsa. Katakan, sektor apa di negara ini yang tidak goyah. Bahkan kursi atau tahta mantan Presiden Soeharto pun goyah, dan akhirnya dia tinggalkan.
Efek bola salju
Faktor yang mempercepat efek bola salju ini adalah menguapnya dengan cepat kepercayaan masyarakat, memburuknya kondisi kesehatan Presiden Soeharto memasuki tahun 1998, ketidakpastian suksesi kepemimpinan, sikap plin-plan pemerintah dalam pengambilan kebijakan, besarnya utang luar negeri yang segera jatuh tempo, situasi perdagangan internasional yang kurang menguntungkan, dan bencana alam La Nina yang membawa kekeringan terburuk dalam 50 tahun terakhir.
Dari total utang luar negeri per Maret 1998 yang mencapai 138 milyar dollar AS, sekitar 72,5 milyar dollar AS adalah utang swasta yang dua pertiganya jangka pendek, di mana sekitar 20 milyar dollar AS akan jatuh tempo dalam tahun 1998. Sementara pada saat itu cadangan devisa tinggal sekitar 14,44 milyar dollar AS.
Terpuruknya kepercayaan ke titik nol membuat rupiah yang ditutup pada level Rp 4.850/dollar AS pada tahun 1997, meluncur dengan cepat ke level sekitar Rp 17.000/dollar AS pada 22 Januari 1998, atau terdepresiasi lebih dari 80 persen sejak mata uang tersebut diambangkan 14 Agustus 1997.
Rupiah yang melayang, selain akibat meningkatnya permintaan dollar untuk membayar utang, juga sebagai reaksi terhadap angka-angka RAPBN 1998/ 1999 yang diumumkan 6 Januari 1998 dan dinilai tak realistis.
Krisis yang membuka borok-borok kerapuhan fundamental ekonomi ini dengan cepat merambah ke semua sektor. Anjloknya rupiah secara dramatis, menyebabkan pasar uang dan pasar modal juga rontok, bank-bank nasional dalam kesulitan besar dan peringkat internasional bank-bank besar bahkan juga surat utang pemerintah terus merosot ke level di bawah junk atau menjadi sampah.
Puluhan, bahkan ratusan perusahaan, mulai dari skala kecil hingga konglomerat, bertumbangan. Sekitar 70 persen lebih perusahaan yang tercatat di pasar modal juga insolvent atau nota bene bangkrut.
Sektor yang paling terpukul terutama adalah sektor konstruksi, manufaktur, dan perbankan, sehingga melahirkan gelombang besar pemutusan hubungan kerja (PHK). Pengangguran melonjak ke level yang belum pernah terjadi sejak akhir 1960-an, yakni sekitar 20 juta orang atau 20 persen lebih dari angkatan kerja.
Akibat PHK dan naiknya harga-harga dengan cepat ini, jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan juga meningkat mencapai sekitar 50 persen dari total penduduk. Sementara si kaya sibuk menyerbu toko-toko sembako dalam suasana kepanikan luar biasa, khawatir harga akan terus melonjak.
Pendapatan per kapita yang mencapai 1.155 dollar/kapita tahun 1996 dan 1.088 dollar/kapita tahun 1997, menciut menjadi 610 dollar/kapita tahun 1998, dan dua dari tiga penduduk Indonesia disebut Organisasi Buruh Internasional (ILO) dalam kondisi sangat miskin pada tahun 1999 jika ekonomi tak segera membaik.
Data Badan Pusat Statistik juga menunjukkan, perekonomian yang masih mencatat pertumbuhan positif 3,4 persen pada kuartal ketiga 1997 dan nol persen kuartal terakhir 1997, terus menciut tajam menjadi kontraksi sebesar 7,9 persen pada kuartal I 1998, 16,5 persen kuartal II 1998, dan 17,9 persen kuartal III 1998. Demikian pula laju inflasi hingga Agustus 1998 sudah 54,54 persen, dengan angka inflasi Februari mencapai 12,67 persen.
Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta (BEJ) anjlok ke titik terendah, 292,12 poin, pada 15 September 1998, dari 467,339 pada awal krisis 1 Juli 1997. Sementara kapitalisasi pasar menciut drastis dari Rp 226 trilyun menjadi Rp 196 trilyun pada awal Juli 1998.
Di pasar uang, dinaikkannya suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) menjadi 70,8 persen dan Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) menjadi 60 persen pada Juli 1998 (dari masing-masing 10,87 persen dan 14,75 persen pada awal krisis), menyebabkan kesulitan bank semakin memuncak. Perbankan mengalami negative spread dan tak mampu menjalankan fungsinya sebagai pemasok dana ke sektor riil.
Di sisi lain, sektor ekspor yang diharapkan bisa menjadi penyelamat di tengah krisis, ternyata sama terpuruknya dan tak mampu memanfaatkan momentum depresiasi rupiah, akibat beban utang, ketergantungan besar pada komponen impor, kesulitan trade financing, dan persaingan ketat di pasar global.
Selama periode Januari-Juni 1998, ekspor migas anjlok sekitar 34,1 persen dibandingkan periode sama 1997, sementara ekspor nonmigas hanya tumbuh 5,36 persen.
Selain krisis ekonomi pada tahun 1998, krisis yang relatif parah yang dirasakan dampaknya oleh masyarakat umum adalah krisis global yang terjadi baru – baru ini (2007/2008). Krisis ini memiliki dampak negatif, tetapi karena net-ekspor (ekspor dikurangi impor) hanya menggerakkan sekitar 8% dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia, maka dampaknya relatif kecil dibandingkan dengan negara tetangga yang ketergantungan ekspornya ke AS besar, misalnya Hong Kong, Singapura, dan Malaysia.
Seperti pada tahun 2001/2002, atau terakhir kali AS mengalami resesi, ada tiga negara di Asia yang tidak terlalu terpukul ekonominya: China, India, dan Indonesia. Ketiga negara ini memiliki penduduk yang banyak sehingga belanja masyarakatnya merupakan motor penggerak ekonomi yang kuat. Untuk ekonomi Indonesia, dampak negatif kenaikan harga bahan bakar minyak sebesar 125% pada 2005 jelas lebih besar dari pada dampak resesi ekonomi AS.


3.Menurut Anda apakah krisis global yang terjadi baru - baru ini ( tahun 2007/2008 ) merupakan krisis yang parah, sehingga perekonomian negara – negara maju ( Amerika Serikat dan Eropa ) terkena dampaknya. Bagaimana dampaknya terhadap negara – negara berkembang ( termasuk Indonesia )?, bagaimana sikap pemerintah Indonesia dalam mengantisipasi dampak krisis global terhadap perekonomian Indonesia?
Jawab :
Menurut saya, krisis global yang terjadi baru – baru ini merupakan krisis yang parah karena menyebabkan krisis finansial yang melanda dunia sekarang. Krisis ini tidak hanya berdampak pada negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa tetapi juga memiliki dampak yang besar terhadap negara – negara berkembang termasuk Indonesia.
Krisis ini bermula dari macetnya kredit perumahan di AS, karena para pemilik rumah tak mampu membayar cicilan kredit. Itulah sebabnya dinamai subpime mortgage. Sub artinya di bawah, prime artinya prima atau bonafid, dan mortgage adalah semacam kredit perumahan.
Kemacetan itu merembet ke mana-mana. Bukan hanya kepada perusahaan yang terlibat dalam pemberian kredit, namun juga perusahaan penjaminan kredit dan asuransi kredit perusahaan subprime mortgage. Sebut saja Lehman Brothers dan Bear Stern, yakni perusahaan investment banking.
Selain itu, terpuruknya beberapa lembaga keuangan terbesar di dunia tersebut adalah indikasi bahwa permasalahan ekonomi AS dan dunia sekarang memang jauh lebih parah dari perkiraan kita sebelumnya.
Kepanikan investor dunia pun semakin parah. Bursa saham terjun bebas. Sejak awal 2008, bursa saham China anjlok 57%, India 52%, Indonesia 41% (sebelum kegiatannya dihentikan untuk sementara), dan zona Eropa 37%. Sementara pasar surat utang terpuruk, mata uang negara berkembang melemah dan harga komoditas anjlok, apalagi setelah para spekulator komoditas minyak menilai bahwa resesi ekonomi akan mengurangi konsumsi energi dunia.
Di Amerika Serikat, setelah melihat bursa saham Wall Street terus melorot, akhirnya kongres menyetujui program penyelamatan sektor keuangan (troubled asset recovery program- TARP) US$700 miliar yang diajukan oleh pemerintah. Namun, karena lamanya negosiasi politik antara pemerintah dan kongres, investor kecewa melihat politikus di Washington tidak memiliki sense of crisis.
Dampak Krisis Global terhadap Negara Berkembang termasuk Indonesia.
Seperti apa yang saya jelaskan diatas, efek dari krisis ekonomi dan financial di AS itu, kini merambat ke negara-negara di Asia dan Eropa, Jepang, dan Singapura. Dan bukan hanya negara maju yang mengalami dampak krisis ini. Negara-negara berkembang pun, ikut terkena imbasnya.
Krisis tidak hanya pada sistem perbankan global, namun sudah mempengaruhi sektor riil ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Karena sektor perbankan AS sedang terpuruk, kekurangan modal, dan (melihat banyaknya lembaga keuangan yang bangkrut) enggan meminjamkan dolarnya, termasuk ke bank-bank internasional di Eropa dan Asia. Akibatnya, perbankan internasional kekurangan dolar untuk memberi pinjaman kepada para pengusaha dunia, yang membutuhkan dolar untuk investasinya (untuk impor mesin, bahan baku, dan sebagainya), termasuk di Indonesia.
Krisis financial global dan lumpuhnya sistem perbankan global yang berlarut-larut, berdampak negatif terhadap Indonesia. Ini terjadi, karena pembiayaan kegiatan investasi di Indonesia (baik oleh usaha dalam maupun luar negeri) akan terus menciut, penyerapan tenaga kerja melambat, yang pada akhirnya menyebabkan daya beli masyarakat turun, sehingga akan menurunkan pula pertumbuhan ekonomi. Dalam situasi seperti ini, yang biasa dilakukan adalah efisiensi, dimana bisa jadi, hal tersebut ditempuh melalui pemutusan hubungan kerja (PHK). Itu adalah konsekuensi, karena daya saing produk terus berkurang, sementara biaya produksi meningkat.
Indonesia pun sudah merasakan imbas krisis global terhadap industri nasional, diantaranya PHK itu tadi, yang terus menggelombang dalam beberapa waktu terakhir. Guna mencegah itu, pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri, yang menghimbau pemerintah daerah, agar tidak menaikkan Upah Minimum Regional (UMR) lebih dari 6%. Namun SKB itu menuai banyak protes dari buruh, sehingga akhirnya direvisi.
Dalam kenyataannya, perusahaan eksportir kita telah merasakan sebagian dampak negatif krisis, sejak beberapa bulan yang lalu, dimana sebagian besar order ekspor telah mengalami pengurangan. Selain itu, beberapa produsen tekstil juga belum menerima order untuk delivery tahun depan dan pembatalan order juga semakin sering terjadi. Tak hanya bidang tekstil, namun juga perkebunan kelapa sawit, konstruksi, dan properti.
Untuk arus impor, sebenarnya bisa terjadi penurunan dan juga kenaikan. Penurunan impor terjadi, khususnya yang berkaitan dengan impor bahan baku dari luar negeri, mengingat terjadi penurunan nilai tukar rupiah. Namun kenaikan impor juga bisa terjadi, karena akan ada gelombang impor besar-besaran produk, khusunya dari Cina, yang kehilangan sebagian besar pasarnya di AS dan Eropa.Cina, tentu terus berusaha semaksimal mungkin untuk mengalihkan ekspor ke berbagai negara, termasuk Indonesia, yang dianggap sebagai potential market.
Sikap Pemerintah Indonesia dalam Mengantisipasi Dampak Krisis Global terhadap Perekonomian Indonesia

Maraknya kasus krisis keuangan Amerika Serikat menyebabkan masalah global keuangan dunia. Untuk mengatasi hal itu, Susilo Bambang Yudhoyono memberikan sepuluh arahan, dan Susilo Bambang Yudhoyono tetap optimis “Ekonomi Asia akan tetap baik”.

Berikut ini merupakan sepuluh arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yaitu:
1.Semua kalangan tetap optimis, dan bersinergi menghadapi krisis keuangan, untuk memelihara momentum pertumbuhan dan mengelola serta mengatasi dampak krisis itu.
2.Tetap pertahankan nilai pertumbuhan 6% yang ditargetkan tahun ini. Yang perlu dijaga adalah komponen permintaan, konsumsi, pembelanjaan pemerintah, investasi, ekspor dan impor. Memanfaatkan perekonomian domestik dan mengambil pelajaran dari krisis tahun 1998 dimana sabuk pengaman perekonomian domestik adalah sektor UMKM, pertanian, dan sektor informal,” ujar dia.
3.Optimalisasi APBN 2009 untuk memacu pertumbuhan dan membangun social safety net dengan sejumlah hal yang harus diperhatikan yaitu infrastruktur, alokasi penanganan kemiskinan, ketersediaan listrik serta pangan dan BBM.
4.Dunia usaha khususnya sektor riil harus tetap bergerak meskipun ekspansi bisa berkurang akibat krisis ini.”Pajak dan penerimaan negara tetap terjaga agar pengangguran tidak bertambah. Kewajiban BI dengan jajaran perbankan adalah mengembangkan kebijakan agar kredit dan likuiditas tersedia agar sektor riil bergerak. Kewajiban pemerintah mengeluarkan kebijakan regulasi iklim dan insentif agar sektor riil tetap bergerak. “Kewajiban swasta lebih adaptif dan terus mempertahankan kinerja, tetap mencari peluang dan share the hardshift.
5.Semua pihak agar cerdas menangkap peluang untuk melakukan persaingan dan kerjasama ekonomi dengan negara sahabat. “Ekonomi asia akan tetap baik, pasar di AS dan Eropa akan lebih tertutup dan melemah untuk ekspor. Buat produk Indonesia lebih kompetif.
6.Galakkan kembali penggunaan produk dalam negeri sehingga pasar domestik akan bertambah kuat. “Menteri berikan insentif dan disinsentif agar kita tetap menggunakan produksi dalam negeri. Cegah dumping barang luar negeri belok ke pasar dalam negeri
7.Tingkatkan sikap profesionalisme. Jajaran pemerintah khususnya memperkokoh sinergi dan kemitraan atau partnership dengan jajaran perbankan dan swasta. “Cegah dan hilangkan buruk sangka atau kecurigaan. Semua berperan penting. Jika ada masalah selesaikan dengan baik.
8.Kerja sama dalam menghadapi masalah. Semua kalangan diminta menghindari sikap egosektoral dan memandang remeh masalah yang dihadapi.
9.Tidak melakukan langkah non partisan. Berkaitan dengan pada 2008 dan 2009 merupakan tahun politik dan tahun pemilu, namun Presiden meminta semua kalangan tak melakukan langkah non partisan.
10.Komunikasi yang bijak. Semua pihak diminta melakukan komunikasi dengan tepat dan bijak kepada rakyat.


4.Apa yang dimaksud dengan nilai tukar mata uang dan sistem devisa. Ada berapa macam sistem nilai tukar dan devisa yang berlaku di Indonesia, sistem nilai tukar dan devisa mana menurut Anda yang terbaik untuk diterapkan di Indonesia, mengapa ?
Jawab :
Nilai tukar mata uang adalah harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya atau nilai dari suatu mata uang terhadap nilai mata uang lainnya (Salvatore 1997:9).
Sistem devisa adalah sistem yang mengatur pergerakan lalu lintas semua barang yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran internasional dari suatu negara ke negara lain.
Sistem Nilai Tukar yang Berlaku di Indonesia

Sistem nilai tukar yang ditentukan oleh pemerintah, ada beberapa jenis, antara lain :
a. Sistem nilai tukar tetap (Fixed exchange rate system)
Kurs suatu mata uang (rupiah) terhadap mata uang lain (dolar) ditetapkan pada nilai tertentu.
Pada kurs ini bank sentral akan siap sedia melayani seluruh kebutuhan devisa yang diperlukan oleh pasar. Apabila tingkat kurs tersebut tidak lagi dapat dipertahankan, maka bank sentral melakukan ” devaluasi ” atau ”revaluasi” atas tingkat kurs yang ditetapkan.
Penetapan nilai kurs tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
•Pegged to a currency, apabila kurs ditetapkan terhadap suatu mata uang lain.
•Pegged to a basket, apabila kurs ditetapkan terhadap sekeranjang mata uang lain dengan bobot tertentu sesuai dengan besarnya hubungan perdagangan dan investasi.
•Currency board system, apabila penetapan kurs tersebut dibarengi dengan pembatasan bagi bank sentral dalam mengedarkan uang sebesar ( nilai ekuivalen ) cadangan devisa yang dimilikinya.
b. Sistem nilai tukar mengambang bebas (Freely floating exchange rate system.)
Kurs dibiarkan bergerak sesuai dengan kekuatan permintaan dan penawaran yang terjadi di pasar. Bank sentral dapat melakukan intervensi di pasar valas untuk mempengaruhi pergerakan kurs di pasar, akan tetapi umumnya hanya dilakukan pada saat – saat tertentu misalnya bila terjadi gejolak kurs yang berlebihan dalam waktu yang sangat singkat.

c. Sistem Nilai Tukar Mengambang Terkendali (Managed floating exchange rate system.)

Sistem nilai tukar yang terletak diantara fixed system dan freely floating, tetapi mempunyai kesamaan dengan fixed exchange system, yaitu pemerintah bisa melakukan intervensi untuk menjaga supaya nilai mata uang tidak berubah terlalu banyak dan tetap dalam arah tertentu. Sedangkan bedanya dengan free floating, managed float masih lebih fleksibel terhadap suatu mata uang. Lalu menurut Krugman dan Obstfeld (2000:485), managed floating exchange rate system adalah sebuah sistem dimana pemerintah mengatur perubahan nilai tukar tanpa bermaksud untuk membuat nilai tukar dalam kondisi tetap.
•Apabila kurs bergerak menembus batas atas atau batas bawah dari pita intervensi, secara otomatis bank sentral akan membeli atau menjual devisa yang diperlukan oleh pasar sehingga kurs bergerak dalam batas pita intervensi.
•Penetapan lebarnya pita intervensi tergantung pada besarnya cadangan devisa yang dimiliki serta kemungkinan kebutuhan yang terjadi dipasar. Umumnya akan disesuaikan dari waktu ke waktu sesuai dengan perkembangan cadangan devisa dan volume transaksi di pasar valas.
d. Pegged exchange rate system
Sistem nilai tukar dimana nilai tukar mata uang domestik dipatok secara tetap terhadap mata uang asing.
Sistem Devisa yang Berlaku di Indonesia

Pada dasarnya ada tiga sistem devisa, yaitu :
- Sistem Devisa Bebas
- Sistem Devisa Kontrol
- Sistem Devisa Semi Bebas
1. Sistem Devisa Bebas
Yaitu sistem lalu lintas devisa yang meliputi perpindahan aset dan kewajiban finasial antara penduduk/resident dan non penduduk/non resident termasuk aset dan kewajiban luar negeri antar penduduk, dimana setiap penduduk bebas memiliki dan menggunakan devisa.
Artinya : Pada dasar pengertian memiliki adalah tidak adanya pembatasan dalam jumlah pembelian dan penjualan mata uang asing antara penduduk dan atau non penduduk termasuk kewajiban menjual devisa kepada negara. Dan dalam hal menggunakan devisa artinya bebas melakukan kegiatan penggunaaan devisa a.l untuk perdagangan internasional, transaksi di pasar uang dan transaksi di pasar modal.
Dalam prakteknya, suatu negara walaupun menganut sistem devisa bebas, pada saat tertentu, misalnya dalam konteks Indonesia seperti pada serbuan spekulan asing pada tahun 1998 atau peristiwa sebelumnya dimana Rupiah banyak ditransaksikan di luar negeri antara tahun 1995- 1997 dimana banyak terjadi penawaran kredit rupiah atau yang dikenal dengan Rupiah Offshore dari Singapura, maka Pemerintah pada waktu itu melakukan sistem devisa terkontrol yaitu dengan membatasi pembelian forward maksimal USD 3 juta per bank untuk meredam tindakan spekulasi dan melarang bank untuk meminjam Rupiah Offshore ini dari Singapura, agar rupiah yang beredar di luar negeri dapat dikontrol.
Jadi sistem devisa bebas pada dasarnya menuntut suatu negara memiliki cadangan devisa yang cukup kuat sehingga pada waktu terjadi gelombang penjualan mata uangnya dapat di counter dengan penjualan cadangan devisa dalam jumlah besar (disebut dengan intervensi bank sentral) untuk meredam penurunan nilai mata uang negara tersebut. Suatu negara yang memiliki cadangan devisa yang kuat (bisa dikatakan memiliki fundamental ekonomi yang kuat) ditambah kecilnya hutang luar negeri, maka mata uangnya cenderung untuk menguat dan akan ditakuti oleh spekulator karena banyaknya amunisi (dalam bentuk cadangan USD, Euro, Emas dll) dalam pertempuran di pasar valas jika spekulator mencoba untuk menggoyang mata uang negara tersebut. Contoh yang aktual adalah beberapa hari ini terjadi penurunan cadangan devisa BI, antara lain dipakai untuk intervensi pembelian rupiah terhadap dollar yang terperosok hingga 10.300. Akibat intervensi ini rupiah kembali stabil di level 9700-9800.
Dalam hal cadangan devisa kita lemah dan terjadinya spekulasi asing karena mengetahui banyaknya hutang jatuh tempo dan posisi short USD akibat pinjaman rupiah offshore dan pemerintah tidak mampu meredam serbuan asing maka terjadilah depresiasi yang luar biasa sehingga mata uang
rupiah contohnya pada tahun 1999 mencapai 16,000. Disinilah letak kelemahan sistem devisa bebas, karena pemerintah tidak berhak untuk mengontrol aktivitas penduduk dan non penduduk dalam melakukan spekulasi sehingga terkadang posisi pembeliannya melewati batas kemampuan suatu negara dalam mencegah kejatuhan nilai mata uangnya. Pada akhirnya, melemahnya nilai rupiah ini berdampak pada imported inflation yang menaikkan harga harga impor atau barang jadi semi impor seperti mobil, elektronik, dll yang membuat beban masyarakat semakin berat karena naiknya cost of living akibat imported inflation ini.
2.Sistem Devisa Kontrol
Karena definisi dari sistem devisa bebas telah disebutkan di atas maka sistem devisa terkontrol adalah sebaliknya dimana pemerintah menerapkan sistem lalu lintas devisa secara terkontrol dengan aturan aturan tertentu yang disuaikan dengan kepentingan negara yang bersangkutan. Contoh yang nyata adalah Malaysia dan dalam beberapa pengertian Singapura termasuk, karena Singapura sejak lama memberlakukan pembatasan maksimal pembelian atau penjualan Singapore Dollar sebanyak SGD 5 juta. Diatas itu maka nasabah wajib lapor ke Bank Sentral Singapura yang dikenal dengan nama MAS (Monetary Authority of Singapore). Dengan demikian, pembelian atau penjualan dalam jumlah banyak SGD (terutama untuk tindakan spekulasi), sudah dapat dideteksi sejak awal oleh MAS. Disinilah cerdiknya pemerintah Singapura dalam meredam tindakan spekulator yang akan menghancurkan suatu negara diatasi dengan membuat peraturan yang sangat ketat dalam permainan valas. Oleh karena itu kita bisa melihat bahwa nilai mata uang SGD tetap stabil dalam waktu ke waktu, selain memang pemerintah Singapura memiliki cadangan devisa yang sangat kuat (USD 100 milyard).
Dalam hal Malaysia, sebenarnya melakukan kombinasi sistem devisa yaitu Currency Board System dan Sistem Devisa Terkontrol. Currency Board System diberlakukan sekitar mulai tahun 1990-an dengan menetapkan nilai range minimum dan maksimum MYR (Malasian Ringgit) yang boleh diperdagangkan dan ditetapkan Bank Negara (Bank Sentral Malaysia). Dan Sistem Devisa Terkontrol mulai diberlakukan tahun 1998, pada waktu terjadi serbuan spekulator di Asia Tenggara, melakukan tindakan aturan sandera MYR antara lain dengan mengatakan bahwa semua MYR yang beredar di luar negeri (MYR Offshore) dinyatakan tidak laku, kecuali dikembalikan kepada Bank Negara (Bank Sentral Malaysia).
Tindakan ini mengharuskan spekulator untuk menjual kembali USD terhadap MYR sehingga MYR akhirnya selamat dari serbuan asing. Jadi tindakan sistem devisa terkontrol ini, telah menyelamatkan Malaysia dan Singapura dari krisis keuangan tahun 1998 dan relatif mengalami dampak yang kecil terhadap gelombang spekulasi.
3.Sistem Devisa Semi Bebas
Pada sistem devisa semi bebas, untuk perolehan dan penggunaan devisa – devisa tertentu wajib diserahkan dan mendapat izin dari negara, sementara jenis devisa lainnya dapat secara bebas diperoleh dan dipergunakan. Sistem ini pernah diterapkan di Indonesia berdasarkan Perpu No.64 Tahun 1970.
Perolehan dan penggunaan DHE wajib diserahkan ke dsn mendapat izin dari Bank Indonesia, sementara untuk DU dapat secara bebas diperoleh dan dipergunakan. Administrasi perolehan dan penggunaan DHE dilakukan oleh Bank Indonesia.
Menurut saya sistem nilai tukar yang terbaik untuk diterapkan di Indonesia adalah sistem Nilai Tukar Mengambang Bebas, dimana pemerintah tidak mencampuri tingkat nilai tukar sama sekali sehingga nilai tukar diserahkan pada permintaan dan penawaran valuta asing. Penerapan sistem ini dimaksudkan untuk mencapai penyesuaian yang lebih berkesinambungan pada posisi keseimbangan eksternal (external equilibrium position.)
Selain alasan diatas, alasan lain nilai tukar mengambang bebas ini adalah sistem yang terbaik untuk diterapkan di Indonesia karena :
•Tidak memerlukan cadangan devisa yang besar karena bank sentral tidak arus mempertahankan kurs pada suatu level tertentu.
•Dapat menciptakan disiplin mekanisme pasar karena ketidakseimbangan permintaan dan penawaran valas akan disesuaikan sendiri dalam bentuk kurs yang terjadi di pasar.
Sedangkan sistem devisa yang terbaik untuk diterapkan di Indonesia adalah Sistem Devisa Bebas yang sekarang masih dianut oleh Indonesia.
Saya mengatakan demikian karena walaupun sebenarnya sistem devisa bebas dilakukan oleh negara yang memiliki devisa yang kuat tapi Indonesia mampu untuk menerapkan sistem devisa bebas tersebut. Hal ini dikarenakan permasalahan yang timbul akibat Penerapan PP No 1 tahun 1982 yang telah mengalami perubahan sehingga berlakulah UU No 24 tahun 1999 tentang lalu lintas devisa dan sistem nilai tukar.
UU No 24 tahun 1999 mengatur :
•Sistem devisa yang dianut Indonesia adalah sistem devisa bebas. Artinya setiap penduduk dapat degan bebas memiliki dan menggunakan devisa.
•Ada kewajiban untuk monitoring lalu lintas devisa. BI diberi kewenangan untuk melakukan monitoring devisa ini.
•Dalam PBI tersebut diatur kewajiban pelaporan bagi setiap lalu lintas devisa oleh dan melalui bank dan lembaga keuangan lainnya mulai Maret 2000. Untuk transaksi diatas USD 10,000 dilaporkan per transaksi, sementara untuk transaksi di bawah $ 10,000 dilaporkan secara gabungan. Dalam laporan tersebut dicantumkan tujuan dari transaksi devisa yang bersangkutan (ekspor/impor, utang luar negeri)
Selain itu, sistem devisa bebas baik untuk diterapkan karena :
•Akses ke sumber pendanaan keuangan luar negeri.
•Akses pelaku ekonomi domestik untuk melakukan investasi global dan transaksi aset secara internasional.
•Alokasi sumber – sumber daya dalam perekonomian melalui kompetisi untuk finansial ressources.
•Ketersediaa sumber – sumber pendanaan bagi investasi domestik, finance trade, dan kegiatan perekonomian lainnya.
•Efisiensi lembaga – lembaga keuangan domestik melalui diseminasi pengaruh kompetisi dengan lembaga keuangan internasional.
•Memacu otoritas moneter untuk terus melahirkan ”good policy” yang kredibel berdasarkan kebijaksanaan yang berorientasi kepada standar efisien perekonomian dunia.


5.Dalam terminologi perubahan nilai tukar dikenal istilah – istilah depresiasi, apresiasi, devaluasi, dan revaluasi. Apa maksud istilah – istilah tersebut, bahaslah beserta contoh (jika memungkinkan).
Jawab :
Depresiasi
Pengurangan nilai mata uang suatu negara di pasaran luar negeri yang disebabkan oleh perubahan permintaan dan penawaran mata uang dalam pasaran valuta asing. Perubahan tersebut berlaku secara otomatis tanpa dilakukan oleh pemerintah. Dalam bahasa Inggris istilahnya adalah : currency depreciation.
Apresiasi
Peningkatan nilai mata uang domestik suatu negara di pasaran luar negeri yang disebabkan oleh perubahan permintaan dan penawaran mata uang dalam pasaran valuta asing. Perubahan tersebut berlaku secara otomatis tanpa dilakukan oleh pemerintah. Dalam bahasa Inggris istilahnya adalah : appreciation of currency.
Devaluasi
Kebijakan pemerintah untuk menurunkan nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang asing ( valuta asing ). Langkah seperti ini dilakukan untuk memperbaiki neraca pembayaran.
Keuntungan dari melakukan devaluasi adalah membuat harga barang – barang ekspor menjadi lebih murah sebaliknya harga barang impor menjadi lebih mahal. Devaluasi membuat peningkatan ekspor, net ekspor ( ekspor dikurangi dengan impor ) dan pendapatan nasional sedangkan kerugian dari devaluasi yang utama adalah membuat cost foreign currency loans lebih besar dari jumlah dollar yang dibayarkan untuk menutup pinjaman dalam mata uang asing juga lebih banyak.
Contoh :
Misalkan pada mulanya 1 dollar US sama dengan Rp. 7.500. Apabila kurs itu diubah pemerintah menjadi US$1 = Rp. 10.000 maka dikatakan bahwa Indonesia telah mendevaluasi mata uangnya. Dengan kurs pertukaran yang baru, dibutuhkan lebih banyak rupiah untuk memperoleh satu dollar Amerika Serikat.
Efek – efek yang mungkin ditimbulkan oleh devaluasi adalah :
a. Ekspor akan bertambah.
b. Impor akan berkurang karena barang luar negeri menjdi lebih mahal.
c. Kenaikan ekspor dan pengurangan impor akan memperbaiki neraca pembayaran.
d. Pendapatan nasional akan bertambah.
e. Mungkin inflasi berlaku, yaitu apabila kenaikan harga barang – barang impor akan mendorong kepa wujudnya kenaikan harga – harga barang produksi dalam negeri.
f. Di luar negeri mungkin negara – negara lain melakukan langkah balasan dengan menggunakan halangan perdagangan impor atau dengan melakukan devaluasi.
Syarat yang dibutuhkan untuk menyukseskan devaluasi adalah :
a. Ekspor negara yang elastis.
b. Permintaan impor negara itu adalah elastis.
c. Di dalam negeri tidak berlaku inflasi.
d. Negara lain tidak melakukan reaksi balasan dan melakukan devaluasi pula.
Revaluasi
Kebijakan pemerintah untuk menaikkan nilai tukar mata uang domestik terhadap nilai tukar negara lain.
Keuntungan dari melakukan revaluasi adalah biaya meminjam dalam mata uang asing lebih murah, sedangkan kerugiannya yang utama adalah menyebabkan produk domestik menjadi lebih mahal dalam mata uang asing dan impor menjadi lebih murah dalam mata uang domestik.
Jatuhnya nilai mata uang tertentu terhadap mata uang lain bisa disebabkan oleh berbagai faktor.
Contoh :
Misalkan pada mulanya 1 dollar US sama dengan Rp. 10.000. Apabila kurs itu diubah pemerintah menjadi US$1 = Rp. 7.500 maka dikatakan bahwa Indonesia telah merevaluasi mata uangnya. Dengan kurs pertukaran yang baru, dibutuhkan lebih sedikit rupiah untuk memperoleh satu dollar Amerika Serikat.







DAFTAR PUSTAKA


Muelgini, Yoke. 2009. Sistem Devisa dan Nilai Tukar: Teori dan Kebijakan di Indonesia. Lampung : Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK)

Sukirno, Sadono.2006. Makroekonomi Teori Pengantar. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

http://www.blog-indonesia.com/blog-archive-6583-109.html
http://www.crayonpedia.org/mw/Pengertian_dan_Fungsi_dan_Jenis-jenis.html

http://www.didik2h.web.ugm.ac.id/upload/Dampak_Krisis_Keuangan_Global.pdf

http://www.ekonomi161.blogspot.com/2009/08/3-metode-menghitung-pendapatan-nasional.html

http://www.herastu.wordpress.com/2008/11/09/sistem-devisa/

http://www.jurnal-sdm.blogspot.com/2009/06/nilai-tukar-mata-uang-faktor-faktor.html

http://www.jurnal-sdm.blogspot.com/2009/09/devaluasi-dan-revaluasi kebijakan.html

http://www.kjksmadani.wordpress.com/2009/02/04/dampak-krisis-keuangan-global/

http ://www.mie.unja.ac.id/pustaka/bahanepb.doc
http://www. purple24white.blogspot.com/2008/11/dampak-krisis-global-terhadap.html

http://www.putracenter.wordpress.com/2009/09/23/perkembangan-kebijakan-sistem-nilai-tukar-di-indonesia/

http://www.seasite.niu.edu/indonesian/Reformasi/Krisis_ekonomi.html
http://www.tiaraputri.wordpress.com/2010/01/09/pendapatan-nasional-dan-pendapatan-perkapita/

http://www.tpkkoja.co.id/modules.php?name=News&file=print&sid=12

http://www.wahdisblog.blogspot.com/2007/11/krisis-ekonomi-jilid-2.html
http://www.yuskos.files.wordpress.com/2008/03/pendapatan-n

Rabu, 02 Juni 2010

Merindukan U. . .

Menatap. .
Mencari. .
Dan melihat. . .
Berharap ada satu sosok yg sangat Q kenal berada disana. . . .
Walau tak berani menyapa. . .
Tapi,,cukup U berada disana. .
Cukup berada di tempt it tanpa melakukan apa2. . .
It sudah cukup bgi Q. . .
Tak maslah bgi Q jika U tak mengenal Q. .Asal U tak berada jauh dan mata Q mash bisa menjangkau mu, . .
It sangt membwt Q senang. . .
Walau hanya sebatas it. . :'(

taukah U slalu ad harap u/ melihat U ditempat yg sama , . .
Sepertiny it tak kan pernah terjadi lagi. .
Sekarang. .
Q coba tata diri tuk melupakan sgala tentang U. .
Dan menjadi diri Q sendiri tanpa byang U. . .